kereta cepat

kereta cepat

Minggu, 21 Mei 2017

g Kecanggihan Kereta Super Cepat China. (Foto: Liputan6.com/Ilyas Istianur P)
Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah memastikan tetap melanjutkan kereta cepat Jakarta-Bandung. Kecepatan yang diperlukan untuk kereta cepat ini sekitar 250-300 kilometer (km)/jam.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, untuk penggarapan kereta cepat menggunakan mekanisme business to business (B to B). Kemudian, tidak melibatkan anggaran negara. Persyaratan lain, tidak menggunakan jaminan dari pemerintah.

"Tiga hal itu diputuskan," kata dia usai rapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Kamis (1/9/2015).

Dalam hal ini, Rini mengatakan yang bakal menggarap kereta cepat ialah China. Pasalnya, negara tersebut memenuhi tiga persyaratan itu.

"Dilihat dari dua proposal yang diterima , yang memenuhi dua proposal adalah proposal China. Tidak  minta jaminan apa-apa, tidak minta anggaran pemerintah dan tranksaksi B to B," jelasnya.

Saat ini, kata dia, perusahaan BUMN Indonesia sedang melakukan pendalaman dengan BUMN China untuk perjanjian joint venture. Mekanisme penggarapannya, dengan konsorsium BUMN.

"BUMN melakukan pendalaman dengan BUMN China untuk melakukan join venture agreement lagi negosiosi. Ini konsorsium BUMN, terdiri PT Jasa Marga Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PTPN VIII dan PT KAI," tuturnya. Demikian pula dengan China menggunakan konsorsium di bawah China Railway Corporation.

Penggarapan kereta cepat ini akan menggunakan pinjaman dari China Development Bank (CDB), dimana pinjaman tersebut mengambil porsi 75 persen dari total proyek. Nilai proyek sendiri ditaksir sekitar Rp 70 triliun-Rp 80 triliun.

"Skema jelas, mereka tawarkan 40 tahun CDB, 10 tahun grace period, 30 tahun pengembalian, bunga 2 persen," tandas dia. (Amd/Ndw)

Kereta kecepatan tinggi di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Rencana jalur kereta api cepat di pulau Jawa, Indonesia.
Rencana untuk membangun kereta api berkecepatan tinggi di Indonesia telah diumumkan oleh Pemerintah pada bulan Juli 2015.[1] Proyek kereta kecepatan tinggi perdana di Indonesia — dan mungkin juga perdana di Asia Tenggara ini — direncanakan akan menghubungkan ibu kota negara Jakarta dengan kota Bandung di provinsi Jawa Barat, dengan jarak membentang sejauh 150 kilometer. Proyek ini juga diharapkan akan berkembang lebih lanjut ke tahap berikutnya dengan menghubungkan kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya di Jawa Timur. Jepang dan Tiongkok telah mengungkapkan ketertarikan mereka untuk ikut serta dalam tender proyek ini, sebelumnya kedua negara Asia tersebut telah menggelar studi komprehensif mengenai proyek ini.[1]
Pada akhir September 2015, Indonesia memberikan proyek kereta api senilai multi-miliar-dollar ini kepada Tiongkok,[2][3] sebuah keputusan yang sangat mengecewakan Jepang.[4] Disebutkan bahwa tawaran Tiongkok untuk membangun jalur kereta cepat Jakarta-Bandung tanpa memerlukan jaminan dan pembiayaan dari Pemerintah Indonesia, adalah poin yang paling menentukan jatuhnya pilihan Jakarta kepada Tiongkok.[5]
Pada tanggal 21 Januari 2016, Presiden Joko Widodo meresmikan proyek pembangunan kereta api cepat Jakarta—Bandung sekaligus melakukan groundbreaking peletakan batu pertama pada proyek tersebut[6]. Jalur kereta kecepatan tinggi Jakarta-Bandung direncanakan akan mulai beroperasi dan mulai melayani publik pada tahun 2019.[7]